Blogger Widgets

Potret Kami

Suatu potret kehidupan masa kini, jauh dari jangkauan tangan yang begitu pendek

Physics Competition 2016

Physics Competition 2015 (PC 2015) merupakan program kerja tahunan oleh Pengurus Himafi FMIPA Unhas Periode 2015/2016 yang ditujukan kepada siswa-siswi SMA dan SMP

Hukum merayakan Tahun Baru

Ada 5 sejarah yang memandang suatu hukum dalam perayaan tahun baru, yaitu babilonia,romawi, mesir, cina, dan persia.

Perempuan tahanan ISIS

Nadia Murad (21), mantan tahanan ISIS, kembali berbicara mengenai perilaku kejam ISIS terhadap para wanita Yazidi.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sunday, 1 September 2019

Negeri Madani yang Indah


Assalamu alaikum wr.wb
Dilahirkan dan dibesarkan dari keluarga sederhana yang berprofesi sebagai petani tidak membuatku patah semangat untuk menuntut ilmu setinggi mungkin. Saya menyelesaikan studi sarjana di Universitas Hasanuddin Makassar pada tahun 2018 dengan peminatan jurusan Fisika selama 4 tahun 9 bulan. Semasa kuliah saya aktif dalam organisasi Himpunan Mahasiswa Fisika FMIPA Unhas, BEM FMIPA Unhas sebagai Kordinator Eksternal (Advokasi), MAPERWA FMIPA Unhas sebagai sekretaris, Unit Kegiatan Intelegencius BEM FMIPA Unhas (unit kegiatan penalaran), UK SINTESIS BEM FMIPA Unhas (unit kegiatan jurnalistik), dan KPA OMEGA Himafi FMIPA Unhas. Selain organisasi intra kampus, saya juga aktif dibeberapa organisasi ekstra kampus seperti Aliansi Selamatkan Pesisir. Keaktifan di organisasi ini mengasah kemampuan saya dalam kepemimpinan dan membangun inisiatif-inisiatif untuk mengambil tindakan nyata dalam merespon permasalahan sosial dan pendidikan di tingkat lokal, provinsi, dan nasional. Selain itu, saya juga aktif mengikuti beberapa kegiatan volunteer, pemberdayaan masyarakat, pembasisan di daerah dan kegiatan kepemimpinan.
Bagi saya, kualitas suatu bangsa dapat dilihat dari sumber daya manusia yang dimiliki. Sumber daya manusia dapat ditakar dengan mutu pendidikan yang memadai. Maka menjadi proyek kerja pemerintah dalam memeratakan pendidikan sampai dipelosok tanah air. Sebagai pemuda yang memiliki kepekaan sosial dan memaknai Undang-undang Dasar 1945 terkhusus pada alinea ke 4 harus turut andil dalam memeratakan pendidikan. Seorang filsuf India, Swami Vivekananda pernah bilang, ” jangan bikin kepalamu menjadi perpustakaan, pergunakan pengetahuanmu untuk diamalkan”.
Motto saya dalam mengikuti kegiatan ini bahwa mengajar adalah cara terbaik merawat ilmu pengetahuan. Mengamalkan ilmu pengetahuan dari apa yang diperoleh dan didengar merupakan satu langkah untuk membangun negara yang madani. Negeri madani adalah negeri yang maju diatas kesejahteraan rakyatnya. Negara yang maju adalah negara yang mandiri, baik itu pendidikan, pangan, energi, dan lain sebagainya. Maka tugas seorang pemuda sebagai generasi penerus bangsa adalah membantu pemerintah dalam menjadikan negara ini sejahtera. Dengan bergabung dibeberapa kegiatan volunteer, seperti pada kegiatan Saudara Satu Negara ini adalah cara terbaik dalam memeratakan pendidikan.
Jika saya berkesempatan untuk diterima pada kegiatan ini, saya akan mewujudkan mimpi saya untuk membantu masyarakat dalam memperoleh pendidikan atau pengetahuan sebagai wujud pelaksanaan dalam pemerataan pendidikan. Selain itu, dengan spesialisasi jurusan saya pada bidang fisika terapan, saya akan memberikan pengetahuan kemasyarakat dalam menangani permasalahan di daerahnya seperti masalah energi dan listrik. Memberikan pengetahuan terkait energi terbarukan agar menjadi modal besar dalam mengawal masyarakat yang mandiri. Sebagai penutup, dengan masyarakat yang sejahtera maka kita pasti bisa membuat negeri madani yang indah.
Hormat saya,
Bau Irfan Alfajri

Share:

Tuesday, 4 October 2016

Pelantikan Pengurus BEM FMIPA Universitas Hasanuddin


Selasa, 27 September 2016, Koridor KM FMIPA Unhas kembali menjadi saksi bisu atas terpilihnya seorang nahkoda baru untuk mipa kedepan. Prosesi pelantikan pengurus BEM FMIPA Unhas periode 2016/2017 yang secara langsung surat keputusan dibacakan oleh Ketua MAPERWA FMIPA Unhas, Kanda Alam Saputra yang juga merupakan Kordinator Eksternal BEM FMIPA Unhas periode sebelumnya.
Pelantikan ini juga dihadiri oleh Ayahanda Dekan Fakultas MIPA beserta Ayahanda Wakil Dekan III yang selalu setia menemani mahasiswa dalam kerja-kerja organisasi. Sambutan bapak Dekan dan Wakil Dekan III pada kegiatan tersebut sangat memotivasi pengurus. Yang paling berkesan disampaikan oleh bapak Dekan yaitu,"Pokoknya semua mahasiswa MIPA harus menjadi warga KMFMIPA, kalau perlu angkatan sebelumnya yang belum sempat harus diikutkan."
Pelantikan turut dimeriahkan dengan sepatah kata dari Ketua BEM FMIPA Periode 2016/2017, dengan mengutip kata dari salah seorang aktivis bahwa tidak akan berdiri sebuah pohon yang kokoh tanpa didasari oleh akar yang kuat.
Kata-kata tersebut menjadi penutup dandilanjutkan dengan sesi poto-poto
salam 
USE YOUR MINE BE THE BEST
Share:

Wednesday, 10 February 2016

Pendidikan dan Tantangannya

Oleh: Fitwi Luthfiyah
  1. Pendahuluan
Betapapun terdapat banyak kritik yang dilancarkan oleh berbagai kalangan terhadap pendidikan, atau tepatnya terhadap praktek pendidikan, namun hampir semua pihak sepakat bahwa nasib suatu komunitas atau suatu bangsa di masa depan sangat bergantung pada kontribusinya pendidikan. Shane (1984: 39), misalnya sangat yakin bahwa pendidikanlah yang dapat memberikan kontribusi pada kebudayaan di hari esok. Pendapat yang sama juga bisa kita baca dalam penjelasan Umum Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional (UU No. 20/2003), yang antara lain menyatakan: “Manusia membutuhkan pendidikan dalam kehidupannya. Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat”.

Dengan demikian, sebagai institusi, pendidikan pada prinsipnya memikul amanah “etika masa depan”. Etika masa depan timbul dan dibentuk oleh kesadaran bahwa setiap anak manusia akan menjalani sisa hidupnya di masa depan bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya yang ada di bumi. Hal ini berarti bahwa, di satu pihak, etika masa depan menuntut manusia untuk tidak mengelakkan tanggung jawab atas konsekuensi dari setiap perbautan yang dilakukannya sekarang ini. Sementara itu pihak lain, manusia dituntut untuk mampu mengantisipasi, merumuskan nilai-nilai, dan menetapkan prioritas-prioritas dalam suasana yang tidak pasti agar generasi-generasi mendatang tidak menjadi mangsa dari proses yang semakin tidak terkendali di zaman mereka dikemudian hari (Joesoef, 2001: 198-199).

Dalam konteks etika masa depan tersebut, karenanya visi pendidikan seharusnya lahir dari kesadaran bahwa kita sebaiknya jangan menanti apapun dari masa depan, karena sesungguhnya masa depan itulah mengaharap-harapkan dari kita, kita sendirilah yang seharusnya menyiapkannya (Joesoef, 2001: 198). Visi ini tentu saja mensyaratkan bahwa, sebagai institusi, pendidikan harus solid. Idealnya, pendidikan yang solid adalah pendidikan yang steril dari berbagai permasalahan. Namun hal ini adalah suatu kemustahilan. Suka atau tidak suka, permasalahan akan selalu ada dimanapun dan kapanpun, termasuk dalam institusi pendidikan.

Oleh karena itu, persoalannya bukanlah usaha menghindari permasalahah, tetapi justru perlunya menghadapi permasalahan itu secara cerdas dengan mengidentifikasi dan memahami substansinya untuk kemudian dicari solusinya.

Makalah ini berusaha mengidentifikasi dan memahami permasalahan-permasalahan pendidikan kontemporer di Indonesia. Permasalahan-permasalahan pendidikan dimaksud dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu permasalahan eksternal dan permasalahan internal. Perlu pula dikemukakan bahwa permasalah pendidikan yang diuraikan dalam makalah ini terbatas pada permasalahan pendidikan formal.

 A. Permasalahan Eksternal Pendidikan Masa Kini

Permasalahan eksternal pendidikan di Indonesia dewasa ini sesungguhnya sangat komplek. Hal ini dikarenakan oleh kenyataan kompleksnya dimensi-dimensei eksternal pendidikan itu sendiri. Dimensi-dimensi eksternal pendidikan meliputi dimensi sosial, politik, ekonomi, budaya, dan bahkan juga dimensi global.

Dari berbagai permasalahan pada dimensi eksternal pendidikan di Indonesia dewasa ini, makalah ini hanya akan menyoroti dua permasalahan, yaitu permasalahan globalisasi dan permasalahan perubahan sosial.
Permasalahan globalisasi menjadi penting untuk disoroti, karena ia merupakan trend abad ke-21 yang sangat kuat pengaruhnya pada segenap sector kehidupan, termasuk pada sektor pendidikan. Sedangakan permasalah perubahan social adalah masalah “klasik” bagi pendidikan, dalam arti ia selalu hadir sebagai permasalahan eksternal pendidikan, dan karenya perlu dicermati. Kedua permasalahan tersebut merupakan tantangan yang harus dijawab oleh dunia pendidikan, jika pendidikan ingin berhasil mengemban misi (amanah) dan fungsinya berdasarkan paradigma etika masa depan.
  • Permasalahan Globalisasi
Globalisasi mengandung arti terintegrasinya kehidupan nasional ke dalam kehidupan global. Dalam bidang ekonomi, misalnya, globalisasi ekonomi berarti terintegrasinya ekonomi nasional ke dalam ekonomi dunia atau global (Fakih, 2003: 182). Bila dikaitkan dalam bidang pendidikan, globalisasi pendidikan berarti terintegrasinya pendidikan nasional ke dalam pendidikan dunia. Sebegitu jauh, globalisasi memang belum merupakan kecenderungan umum dalam bidang pendidikan. Namun gejala kearah itu sudah mulai Nampak.
Sejumlah SMK dan SMA di beberapa kota di Indonesia sudah menerapkan sistem Manajemen Mutu (Quality Management Sistem) yang berlaku secara internasional dalam pengelolaan manajemen sekolah mereka, yaitu SMM ISO 9001:2000; dan banyak diantaranya yang sudah menerima sertifikat ISO.

Oleh karena itu, dewasa ini globalisasi sudah mulai menjadi permasalahan actual pendidikan. Permasalahan globalisasi dalam bidang pendidikan terutama menyangkut output pendidikan. Seperti diketahui, di era globalisasi dewasa ini telah terjadi pergeseran paradigma tentang keunggulan suatu Negara, dari keunggulan komparatif (Comperative adventage) kepada keunggulan kompetitif (competitive advantage). Keunggulam komparatif bertumpu pada kekayaan sumber daya alam, sementara keunggulan kompetitif bertumpu pada pemilikan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas (Kuntowijoyo, 2001: 122).

Dalam konteks pergeseran paradigma keunggulan tersebut, pendidikan nasional akan menghadapi situasi kompetitif yang sangat tinggi, karena harus berhadapan dengan kekuatan pendidikan global. Hal ini berkaitan erat dengan kenyataan bahwa globalisasi justru melahirkan semangat cosmopolitantisme dimana anak-anak bangsa boleh jadi akan memilih sekolah-sekolah di luar negeri sebagai tempat pendidikan mereka, terutama jika kondisi sekolah-sekolah di dalam negeri secara kompetitif under-quality (berkualitas rendah). Kecenderungan ini sudah mulai terlihat pada tingkat perguruan tinggi dan bukan mustahil akan merambah pada tingkat sekolah menengah.

Bila persoalannya hanya sebatas tantangan kompetitif, maka masalahnya tidak menjadi sangat krusial (gawat). Tetapi salah satu ciri globalisasi ialah adanya “regulasi-regulasi”. Dalam bidang pendidikan hal itu tampak pada batasan-batasan atau ketentuan-ketentuan tentang sekolah berstandar internasional. Pada jajaran SMK regulasi sekolah berstandar internasional tersebut sudah lama disosialisasikan. Bila regulasi berstandar internasional ini kemudian ditetapkan sebagai prasyarat bagi output pendidikan untuk memperolah untuk memperoleh akses ke bursa tenaga kerja global, maka hal ini pasti akan menjadi permasalah serius bagi pendidikan nasional.

Globalisasi memang membuka peluang bagi pendidikan nasional, tetapi pada waktu yang sama ia juga mengahadirkan tantangan dan permasalahan pada pendidikan nasional. Karena pendidikan pada prinsipnya mengemban etika masa depan, maka dunia pendidikan harus mau menerima dan menghadapi dinamika globalisasi sebagai bagian dari permasalahan pendidikan masa kini.
  • Permasalahan perubahan sosial
Ada sebuah adegium yang menyatakan bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi, semuanya berubah; satu-satunya yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Itu artinya, perubahan sosial merupakan peristiwa yang tidak bisa dielakkan, meskipun ada perubahan sosial yang berjalan lambat dan ada pula yang berjalan cepat.
Bahkan salah satu fungsi pendidikan, sebagaimana dikemukakan di atas, adalah melakukan inovasi-inovasi sosial, yang maksudnya tidak lain adalah mendorong perubahan sosial. Fungsi pendidikan sebagai agen perubahan sosial tersebut, dewasa ini ternyata justru melahirkan paradoks.

Kenyataan menunjukkan bahwa, sebagai konsekuansi dari perkembangan ilmu perkembangan dan teknologi yang demikian pesat dewasa ini, perubahan sosial berjalan jauh lebih cepat dibandingkan upaya pembaruan dan laju perubahan pendidikan. Sebagai akibatnya, fungsi pendidikan sebagai konservasi budaya menjadi lebih menonjol, tetapi tidak mampu mengantisipasi perubahan sosial secara akurat (Karim, 1991: 28). Dalam kaitan dengan paradoks dalam hubungan timbal balik antar pendidikan dan perubahan sosial seperti dikemukakan di atas, patut kiranya dicatat peringatan Sudjatmoko (1991:30) yang menyatakan bahwa Negara-negara yang tidak mampu mengikuti revolusi industri mutakhir akan ketinggalan dan berangsur-angsur kehilangan kemampuan untuk mempertahankan kedudukannya sebagai Negara merdeka. Dengan kata lain, ketidakmampuan mengelola dan mengikuti dinamika perubahan sosial sama artinya dengan menyiapkan keterbelakangan. Permasalahan perubahan sosial, dengan demikian harus menjadi agenda penting dalam pemikiran dan praksis pendidikan nasional.

B. Permasalahan Internal Pendidikan Masa Kini

Seperti halnya permasalahan eksternal, permasalahan internal pendidikan di Indonesia masa kini adalah sangat kompleks. Daoed Joefoef (2001: 210-225) misalnya, mencatat permasalahan internal pendidikan meliputi permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan strategi pembelajaran, peran guru, dan kurikulum. Selain ketiga permasalahan tersebut sebenarnya masih ada jumlah permasalahan lain, seperti permasalahan yang berhubungan dengan sistem kelembagaan, sarana dan prasarana, manajemen, anggaran operasional, dan peserta didik. Dari berbagai permasalahan internal pendidikan dimaksud, makalah ini hanya akan membahas tiga permasalahan internal yang di pandang cukup menonjol, yaitu permasalahan sistem kelembagaan, profesionalisme guru, dan strategi pembelajaran.
  • Permasalahan sistem kelembagaan pendidikan
Permasalahan sistem kelembagaan pendidikan yang dimaksud dengan uraian ini ialah mengenai adanya dualisme atau bahkan dikotomi antar pendidikan umum dan pendidikan agama. Dualisme atau dikotomi antara pendidikan umum dan pendidikan agama ini agaknya merupakan warisan dari pemikiran Islam klasik yang memilah antara ilmu umum dan ilmu agama atau ilmu ghairuh syariah dan ilmu syariah, seperti yang terlihat dalam konsepsi al-Ghazali (Otman, 1981: 182).

Dualisme dikotomi sistem kelembagaan pendidikan yang berlaku di negeri ini kita anggap sebagai permasalahan serius, bukan saja karena hal itu belum bisa ditemukan solusinya hingga sekarang, melainkan juga karena ia, menurut Ahmad Syafii Maarif (1987:3) hanya mampu melahirkan sosok manusia yang “pincang”. Jenis pendidikan yang pertama melahirkan sosok manusia yang berpandangan sekuler, yang melihat agama hanya sebagai urusan pribadi.

Sedangkan sistem pendidikan yang kedua melahirkan sosok manusia yang taat, tetapi miskim wawasan. Dengan kata lain, adanya dualisme dikotomi sistem kelembagaan pendidikan tersebut merupakan kendala untuk dapat melahirkan sosok manusia Indonesia “seutuhnya”. Oleh karena itu, Ahmad Syafii Maarif (1996: 10-12) menyarankan perlunya modal pendidikan yang integrative, suatu gagasan yang berada di luar ruang lingkup pembahasan makalah ini.
  • Permasalahan Profesionalisme Guru
Salah satu komponen penting dalam kegiatan pendidikan dan proses pembelajaran adalah pendidik atau guru. Betapapun kemajuan taknologi telah menyediakan berbagai ragam alat bantu untuk meningkatkan efektifitas proses pembelajaran, namun posisi guru tidak sepenuhnya dapat tergantikan. Itu artinya guru merupakan variable penting bagi keberhasilan pendidikan.

Menurut Suyanto (2006: 1), “guru memiliki peluang yang amat besar untuk mengubah kondisi seorang anak dari gelap gulita aksara menjadi seorang yang pintar dan lancar baca tulis alfabetikal maupun fungsional yang kemudian akhirnya ia bisa menjadi tokoh kebanggaan komunitas dan bangsanya”. Tetapi segera ditambahkan: “guru yang demikian tentu bukan guru sembarang guru. Ia pasti memiliki profesionalisme yang tinggi, sehingga bisa “digugu lan ditiru”.

Lebih jauh Suyanto (2006: 28) menjelaskan bahwa guru yang profesional harus memiliki kualifikasi dan ciri-ciri tertentu. Kualifikasi dan ciri-ciri dimaksud adalah: (a) harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat, (b) harus berdasarkan atas kompetensi individual, (c) memiliki sistem seleksi dan sertifikasi, (d) ada kerja sama dan kompetisi yang sehat antar sejawat, (e) adanya kesadaran profesional yang tinggi, (f) meliki prinsip-prinsip etik (kide etik), (g) memiliki sistem seleksi profesi, (h) adanya militansi individual, dan (i) memiliki organisasi profesi.

Dari ciri-ciri atau karakteristik profesionalisme yang dikemukakan di atas jelaslah bahwa guru tidak bisa datang dari mana saja tanpa melalui sistem pendidikan profesi dan seleksi yang baik. Itu artinya pekerjaan guru tidak bisa dijadikan sekedar sebagai usaha sambilan, atau pekerjaan sebagai moon-lighter. Namun kenyataan dilapangan menunjukkan adanya guru terlebih terlebih guru honorer, yang tidak berasal dari pendidikan guru, dan mereka memasuki pekerjaan sebagai guru tanpa melalui system seleksi profesi. Singkatnya di dunia pendidikan nasional ada banyak, untuk tidak mengatakan sangat banyak, guru yang tidak profesioanal. Inilah salah satu permasalahan internal yang harus menjadi “pekerjaan rumah” bagi pendidikan nasional masa kini.
  • Permasalahan Strategi Pembelajaran
Menurut Suyanto (2006: 15-16) era globalisasi dewasa ini mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap pola pembelajaran yang mampu memberdayakan para peserta didik. Tuntutan global telah mengubah paradigma pembelajaran dari paradigma pembelajaran tradisional ke paradigma pembelajaran baru. Suyanto menggambarkan paradigma pembelajaran sebagai berpusat pada guru, menggunakan media tunggal, berlangsung secara terisolasi, interaksi guru-murid berupa pemberian informasi dan pengajaran berbasis factual atau pengetahuan.

Paulo Freire (2002: 51-52) menyebut strategi pembelajaran tradisional ini sebagai strategi pelajaran dalam “gaya bank” (banking concept). Di pihak lain strategi pembelajaran baru digambarkan oleh Suyanto sebagai berikut: berpusat pada murid, menggunakan banyak media, berlangsung dalam bentuk kerja sama atau secara kolaboratif, interaksi guru-murid berupa pertukaran informasi dan menekankan pada pemikiran kritis serta pembuatan keputusan yang didukung dengan informasi yang kaya. Model pembelajaran baru ini disebut oleh Paulo Freire (2000: 61) sebagai strategi pembelajaran “hadap masalah” (problem posing).

Meskipun dalam aspirasinya, sebagaimana dikemukakan di atas, dewasa ini terdapat tuntutan pergeseran paradigma pembelajaran dari model tradisional ke arah model baru, namun kenyataannya menunjukkan praktek pembelajaran lebih banyak menerapkan strategi pembelajaran tradisional dari pembelajaran baru (Idrus, 1997: 79). Hal ini agaknya berkaitan erat dengan rendahnya professionalisme guru.

     2. Kesimpulan dan Saran

Permasalahan pendidikan di Indonesia masa kini sesungguhnya sangat kompleks. Makalah ini dengan segala keterbatasannya, hanya sempat menyoroti beberapa diantaranya yang dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu permasalahan eksternal dan internal. Dalam permasalahan eksternal di bahas masalah globalisasi dan masalah perubahan social sebagai lingkungan pendidikan.

Sedangkan menyangkut permasalahan internal disoroti masalah system kelemahan (dialisme dikotomi), profesionalisme guru, dan strategi pembelajaran. Dari pemahaman terhadap sejumlah permasalahan dimaksud di atas dapat disimpulkan bahwa berbagai permasalahan pendidikan yang komplek itu, baik eksternal maupun internal adalah saling terkait.

Hal ini tentu saja menyarankan bahwa pemecahan terhadap permasalahan-permasalahan pendidikan tidak bisa dilakukan secara parsial; yang merupakan pendekatan terpadu. Bagaimanapun, permasalahan-permasalahan di atas yang belum merupakan daftar lengkap, harus kita hadapi dengan penuh tanggung jawab. Sebab, jika kita gagal menemukan solusinya maka kita tidak bisa berharap pendidikan nasional akan mampu bersaing secara terhormat di era globalisasi dewasa ini.

Sebagai insan yang berpendidikan, kita tentu masih terus berharap akan datangnya perubahan fundamental terhadap sistem pendidikan kita. rasa optimis menatap masa depan wajib terbersit di lubuk hati kita semua, meskipun banyak sekali problem yang belum terentaskan. Rasa optimis menjadi “kata kunci” (key word) bagi semua idealisme perubahan itu. Seperti Paulo freire yang telah berhasil memerdekakan rakyat Brazil dari buta huruf, keterbelakangan, dan kemiskinan. Kita tidak bisa membayangkan, betapa besar rasa optimis seorang Freire sewaktu berjuang dengan sekuat tenaga dan pikirannya untuk membebaskan rakyat Brazil dari buta huruf, keterbelakangan, dan kemiskinan itu.

Meskipun banyak problem yang dihadapi oleh pendidikan nasional, namun itu semua tidak boleh menyurutkan semangat kita. Bagaimanapun juga, pendidikan nasional merupakan investasi bagi masa depan bangsa. Sebab, melalui pendidikan nasional, masa depan bangsa sedang dirancang sebaik mungkin dengan cara mempersiapkan Sumber Daya Manusia yang tidak kalah kualitasnya dengan negara-negara lain. Kita perlu mengingat kembali kata Cicero, “Pekerjaan apakah yang lebih mulia, atau yang lebih bernilai bagi negara, daripada mengajar generasi yang sedang tumbuh?”.

Dengan demikian, sebagai seorang yang berada di dunia pendidikan kita tidak perlulah merasa putus asa. Ini seperti yang dikatakan oleh Suyanto (2006: ), Sitem pendidikan nasional sedang beranjak menuju perubahan. Akan tetapi, perubahan itu jelas tidak bisa dalam sekali waktu yang langsung memperlihatkan hasil secara maksimal. Sebab, mengelola sistem pendidikan nasional ibarat menanam modal (investasi) untuk jangka panjang. Tetapi wujud keberhasilannya tidak seketika. Jika investasi dalam bentuk bisnis jelas akan menghasilkan untung-rugi secara riil, karena dapat diukur dengan besarnya nominal rupiah. Namun investasi pendidikan adalah berbentuk kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang riil bagi generasi bangsa. Karena tujuan nasional pendidikan kita adalah untuk membangun mentalitas yang berkarakter.

Daftar Pustaka

Fakih, Mansour, 2000. Runtuhnya Teori Pembangunan dan Globalisasi. Yogyakarta: Insist Press dan Pustaka Pelajar.
Freire, Paulo, 2000. Pendidikan Kaum Tertindas, alih bahasa Oetomo Dananjaya dkk. Jakarta: LP3ES.
Joesoef, Daoed, 2001. “Pembaharuan Pendidikan dan Pikiran”, dalam Sularto    ( ed ). Masyarakat Warga dan Pergulatan Demokrasi: Antara Cita dan Fakta. Jakarta: Kompas.
Karim, M. Rusli. 1991, “Pendidikan Islam sebai Upaya Pembebasan Manusia”, dalam Muslih Usa (ed.). Pendidikan Islam di Indonesia: Antara Cita dan Fakta. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Kuntowijoyo, 2001. Muslim Tanpa Masjid: Esai-Esai Agama, Budaya, dan Politik dalam Bingkai Strukturalisme Transendental. Bandung: Mizan.
Maarif, Ahmad Syafii, 1987. “Masalah Pembaharuan Pendidikan Islam”, dalam Ahmad Busyairi dan Azharudin Sahil ( ed .). Tantangan Pendidikan Islam. Yogyakarta: LPM UII.
Maarif. Ahmad Syafii, 1996. “Pendidikan Islam dan Proses Pemberdayaan Umat”. Jurnal Pendidikan Islam, No. 2 Th.I/Oktober 1996.
Othman, Ali Issa, 1981. Manusia Menurut al-Ghazali, alih bahasa Johan Smit dkk. Bandung: Pustaka.
Shane, Harlod G., 1984. Arti Pendidikan bagi Masa Depan. Jakarta: Rajawali Pers.
Soedjatmoko, 1991. “Nasionalisme sebagai Prospek Belajar”, Prisma, No. 2 Th. XX, Februari.
Suyanto, 2006. Dinamika Pendidikan Nasional (Dalam Percanturan Dunia Global). Jakarta: PSAP Muhammadiyah

 Author : Bau Irfan Alfajri
Share:

Friday, 1 January 2016

Kewajiban wanita tahanan ISIS

isis-nangis_20160101_105016

Ilustrasi.
Dikutip dari, SURYAMALANG.COM, MESIR – Nadia Murad (21), mantan tahanan ISIS, kembali berbicara mengenai perilaku kejam ISIS terhadap para wanita Yazidi.
Setelah berbicara di depan pejabat PBB, kini Nadia berbicara di Universitas Kairo, Mesir.
Dikutip dari The Daily Mirror, Kamis (31/12/2015), Nadia kembali mengungkapkan penderitaannya selama menjadi tahanan ISIS.
Tak banyak hal berbeda dari apa yang disampaikan Nadia sebelumnya.

Tapi, kali Nadia ini mengungkap, sebelum seorang tahanan wanita dipaksa melayani nafsu tentara ISIS, ada kewajiban yang harus dipenuhi.
“Semua wanita dipaksa untuk berdoa sebelum akhirnya diperkosa,” ujar Nadia.
“Mereka menghargai kami tak lebih dari binatang. Mereka memperkosa beberapa wanita sekaligus, dalam satu ruangan. Anda tidak akan pernah bisa membayangkan kekejaman mereka. Mereka memperkosa, dan menyebut itu ada dalam hukum Islam” tambah dia.
Berbicara di Mesir, Nadia meminta negara-negara Islam dan Arab untuk bersatu memerangi ISIS.
Selaku muslim, Nadia mengaku tindakan barbar ISISmengatasnamakan Islam, tak bisa dibiarkan.

Bercinta Sampai Lelah
Sebelumnya, Nadia Murad Basee Taha, juga menjadi saksi kekejaman ISIS di sebuah sesi hearing di markas Dewan Keamanan PBB.
“Mereka memerkosa kami, hanya untuk memastikan bahwa kami tak punya lagi masa depan,”
Sebagaimana diberitakan The Daily Mail pada Sabtu (19/12/2015), Nadia didatangkan untuk menceritakan bagaimana kejamnya anggota ISIS memperlaukan para wanita Yazidi.
Wanita dari etnis Yazidi, selama ini diburu oleh pada ISIS untuk dijadikan budak cinta.
Mereka diperkosa dan dipaksa untuk melayani kebutuhan ‘biologis’ para tentara ISIS.
Nadia mengaku sudah melayani para tentara ISIS selama 3 bulan.
“Saya diculik bersama wanita-wanita Yazidi lain. Kami dimasukkan bus. Disana, kami sudah dilecehkan. Kami diraba-raba, dan mereka melakukan kekerasan ke kami,” kata Nadia, sambil menangis.
Saat tiba di penampungan di Mosul (daerah kekuasaan ISIS di Utara Irak), Nadia terkejut melihat sudah ada ribuan wanita etnis Yazidi lain.
“Satu orang lalu datang kepadaku. Dia ingin mengambilku. Aku terus menunduk. Aku sangat ketakutan. Ketika aku melihat ke atas, pria itu sangat besar. Dia terlihat seperti monster,” cerita Nadia.
Nadia kemudian menambahkan : :Aku lalu menangis. Aku bilang kepadanya aku takut, aku masih muda. Pria itu malah memukul dan menendangku,” ucap Nadia.
“Beberapa menit kemudian, pria lain datang. Badannya lebih kecil,”
“Aku memohon ke dia. Aku memohon agar dia mengambilku saja. Aku sangat ketakutan melihat pria yang pertama,”
Pria itu, lalu meminta agar Nadia pindah agama (etnis Yazidi memegang keyakinan Syiah dan Islam Sufi).
“Aku menolak. Tapi dia tetap menjadikanku sebagai istri bawah tangannya,”
“Malam itu dia memukuli aku. Dia memintaku untuk telanjang. Dia menaruhku di kamar yang dijaga sejumlah tentara, lalu mereka memerkosaku sampai aku kelelahan,” cerita Nadia.
Dari ceritanya ini, Nadia kemudian memohon kepada Dewan Keamanan PBB, untuk segera menumpas ISIS.
Nadia sendiri berhasil melarikan diri setelah 3 bulan menjadi budak cinta tentara ISIS.
PBB mendengarkan kesaksian Nadia, untuk mendapatkan bukti bahwa ISIS melakukan kejahatan perang dengan melakukan perdagangan manusia (human trafficking).

editor: Bau Irfan Alfajri
Share:

Thursday, 31 December 2015

Hukum merayakan Tahun Baru menurut 5 sejarah

Sejarah Perayaan Tahun Baru
Dalam sebuah artikel di www.history.com yang berjudul “5 Ancient New Years Celebrations” disebutkan lima peradaban kuno yang sejak dulu telah merayakan tahun baru. Lima peradaban itu adalah Babilonia, Romawi, Mesir, China dan Persia. Dari kelima peradaban yang disebutkan tidak ada peradaban yang bernafaskan Islam di dalamnya. Semuanya adalah peradaban di luar Islam.
  1. Babilonia
Salah satu peradaban tertua yang tercatat merayakan tahun baru adalah peradaban Babilonia sekitar 2000 SM. Perayaan itu diselenggarakan pada akhir Maret selepas ekuinoks vernal (titik musim semi matahari menandai dimulainya musim semi astronomis). Sekaligus untuk menghormati kelahiran dunia baru dengan festival keagamaan yang dikenal dengan nama Akitu. Ritual itu di selenggarakan selama 11 hari. Selain untuk perayaan tahun baru, Akitu juga digunakan untuk perayaan mitos kemenangan dewa langit Babilon Marduk atas Dewi Laut jahat Tiamat.
Peradaban Babilonia
Peradaban Babilonia
  1. Romawi
Cikal bakal tahun baru yang diselenggarakan pada 1 Januari bersumber pada perayaan pada peradaban Romawi. Awalnya, saat itu kalender Roma terdiri dari 10 bulan atau 304 hari dimana setiap awal tahun tahu baru jatuh saat ekuinoks vernal. Penanggalan ini diciptakan oleh Romulus, pendiri Roma.
Selang berabad-abad lamanya, ternyata kalender Roma mulai tidak sesuai dengan sinkronisasi matahari. Akhirnya,pada tahun 46 SM Julius Caisar memutuskan untuk memecahkan masalah ini dengan para astronom dan matematikawan. Dia memperkenalkan kalender Julian yang menyerupai kelender Gregorian yang digunakan sebagian besar hari ini di seluruh dunia.
Janus pada mata uang Romawi
Janus pada mata uang Romawi
Reformasi lain yang dibawa Julius adalah menetapkan 1 Januari sebagai hari pertama di setiap tahunnya. Hal ini dimaksudkan sebagai penghormatan kepada dewa Janus, dewa berwajah dua yang melambangkan bisa melihat kembali masa lalu dan masa depan. Perayaan tahun baru itu dimeriahkan dengan pemberian persembahan kepada Janus, saling bertukar hadiah dan menghiasi rumah mereka serta mengadakan pesta pora. Budaya ini ternyata masih ada hingga saat ini saat perayaan tahun baru pada 1 Januari.
  1. Mesir
Budaya Mesir Kuno sangat berkaitan erat dengan sungai Nil. Tahun baru mereka didasarkan pada banjir tahunan yang terjadi. Menurut penulis Roman Censorinus, tahun baru Mesir diduga ketika Sirius pertama (bintang tercerah di malam hari) muncul setelah absen 70 hari. Fenomena ini terjadi pada pertengahan Juli sebelum banjir tahunan sungai Nil. Perayaan dilakukan dengan sebuah festival yang dikenal dengan nama “Wepet Renpet” yang berarti pembukaan tahun.
Sungai Nil
Sungai Nil
Perayaan ini juga dijadikan ajang untuk bermabuk-mabukan. Pesta besar-besaran ini dikaitkan dengan mitos Sekhmet dimana Dewi Perang yang merencanakan membunuh semua umat manusia hingga dewa Ra menipunya dengan minum-minuman keras sampai tidak sadarkan diri. Orang-orang Mesir kuno saat itu selain dengan mabuk-mabukan juga merayakannya dengan alunan musik, seks dan pesta pora.
  1. Cina
Tahun baru Cina diyakini mulai dikenal sejak 3000 tahun silam sejak dinasti Shang. Awalnya perayaaan dilakukan pada permulaan musim semi atau musim tanam. Namun, lama kelamaan mulai terkontaminasi dengan mitos dan legenda. Menurut satu cerita yang paling populer saat itu ada makhluk haus darah bernama “Nian” yang berburu setiap tahunnya. Untuk menakut-nakuti makhluk itu maka para penduduk menghiasi rumah dengan hiasan bernuansa merah, pembakaran bambu dan membuat suara yang keras. Akhirnya, hal itu berintegrasi pada perayaan tahun baru Cina hingga saat ini.
  1. Persia
Perayaan ini masih dirayakan di Iran,beberapa wilayah Timur Tengah dan Asia. Sering disebut dengan nama Nowruz atau tahun baru Persia. Perayaan ini dilakukan selama 13 hari pada musim semi atau ketika ekuinoks vernal pada bulan Maret. Diyakini budaya ini sebagai bagian dari agama Zoroaster. Catatan resmi Nowruz belum muncul sampai abad ke-2, namun para sejarawan percaya bahwa perayann ini mulanya terjadi sekitar abad 6 SM pada saat pemerintahan kekaisaran Akhemeniyah.
Persia Kuno
Persia Kuno
Peringatan kuno ini terfokus pada kembalinya musim semi.Perayaan yang dilakukan adalah dengan bertukar hadiah, pencahayaan api unggun, mewarnai telur dan percikan air yang melambangkan penciptaan.

Dari lima peradaban yang merayakan tahun baru di atas ternyata perayaan tahun baru 1 Januari menginduk pada budaya Romawi kuno. Dimana budaya itu diciptakan oleh Julius Caisar untuk mengagungkan dewa bermuka dua, Janus. Hal ini juga ditulis dalam The World Book Encyclopedia Vol.14 hal.237 yang berbunyi
The Roman ruler Julius Caesar established January 1 as New Year’s day in 46 BC. The Romans dedicated this day to Janus, the god of gates, doors and beginning.The month of January was named after Janus, who had two faces-one looking forward and other looking backward.”
Penguasa Romawi, Julius Caesar menetapkan tanggal 1 Januari sebagai hari tahun baru di 46 SM. Orang Roma mendedikasikan hari ini untuk Janus, dewa segala gerbang, pintu dan permulaan waktu. Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri, yaitu dewa yang memiliki dua wajah, Satu wajah menghadap ke (masa) depan dan satu wajah lagi menghadap ke (masa) lalu”.
The World Book Encyclopedia Vol.14 hal.237
The World Book Encyclopedia Vol.14 hal.237
Secara umum kita mendapati bahwa peringatan tahun baru dilakukan oleh peradaban-peradaban kafir yang tidak bersesuaian dengan Islam. Mereka menjadikan tahun baru sebagai ajang untuk penghormatan kepada dewa tertentu atau wujud “terima kasih” mereka kepada alam. Mereka menjadikan tahun baru sebagai ajang pesta dan pemujaan yang mereka menganggapnya sebagai sebuah hari raya. Sebagai umat Islam kita sudah memiliki hari raya tersendiri yang disebutkan dalam hadits berikut ini.
Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الْمَدِينَةَ وَلأَهْلِ الْمَدِينَةِ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ « قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ يَوْمَيْنِ خَيْراً مِنْهُمَا يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ النَّحْرِ
“Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, penduduk Madinah memiliki dua hari raya untuk bersenang-senang dan bermain-main di masa jahiliyah. Maka beliau berkata, “Aku datang kepada kalian dan kalian mempunyai dua hari raya di masa Jahiliyah yang kalian isi dengan bermain-main. Allah telah mengganti keduanya dengan yang lebih baik bagi kalian, yaitu hari raya Idul Fithri dan Idul Adha (hari Nahr)” (HR. An Nasai no. 1556 dan Ahmad 3: 178, sanadnya shahih sesuai syarat Bukhari-Muslim sebagaimana kata Syaikh Syu’aib Al Arnauth).
Berdasarkan hadits ini maka segala bentuk hari raya selain hari raya Idul Fitri dan Idul Adha maka tidak dianggap oleh syariat Islam, walaupun hari raya itu sebuah tradisi sebagaimana yang terjadi pada penduduk Madinah pasca kedatangan Nabi Muhammad saw di Madinah.
Dari sisi sejarah kita bisa mengetahui bahwa perayaan tahun baru adalah hari raya yang diperingati oleh peradaban-peradaban kafir. Sementara dari sisi kekinian kita bisa melihat perayaan tahun baru tak ubahnya menjadi ajang bercampur berbagai macam maksiat. Mulai dari khomer, zina dan hura-hura yang semuanya terlarang di dalam Islam. Wallahu a’lam bisshowab.
Penulis : Dhani El_Ashim
Editor   : Bau Irfan Alfajri
Share:

Draw My Life - EdhoZell (100K Subscribers!!)

Share:

Sunday, 27 December 2015

Jas Hujan dari Limbah Sampah

KARYA TULIS ILMIAH

JAS HUJAN AD REM LIMBAH KEMASAN PRODUK
Disusun untuk memenuhi persyaratan dalam rangka mengikuti kegiatan Latihan Penulisan Karya Tulis Ilmiah (LPKTIR)  Kelompok  Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 6 Bulukumba
OLEH :
Bau Irfan Alfajri

DINAS PENDIDIKAN NASIONAL
KABUPATEN BULUKUMBA
SMA NEGERI 6 BULUKUMBA
2012

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Perkembangan manusia mengalami zaman revolusi industri yang menggantungkan kehidupan manusia pada bidang perindustrian. Nilai-nilai kehidupan  manusia pun mengalami perubahan, terutama dalam interaksi antar manusia dengan lingkungannya. Perubahan-perubahan yang terjadi ini menghasilkan  dampak baik positif maupun negatif. Salah satu dampak revolusi industri yang terjadi dan masih terus berlanjut pada masa sekarang dalam kehidupan dan peradaban manusia adalah dampaknya bagi lingkungan yang ada di sekitar itu sendiri. Ekspansi usaha yang dilakukan oleh para pelaku industri seperti pembangunan pabrik-pabrik dan pembuatan produksi dengan kapasitas besar berdampak bagi lingkungan tempat tinggal manusia.
Di Indonesia, kegiatan pembangunan yang semakin meningkat mengandung resiko pencemaran dan perusakan lingkungan oleh limbah produksi seperti kemasan produk. Ditambah lagi curah hujan di Indonesia dari tahun ke tahun yang semakin meningkat yang juga menjadi salah satu penyebab kerusakan lingkungan seperti banjir. Hal tersebut juga dapat menyebabkan penurunan antibodi sehingga tubuh mudah terserang  penyakit.
Berdasar dari hal tersebut kami berisiatif bagaimana agar dapat menghasilkan produk atau barang yang dapat menyikapi atau menanggulangi hal tersebut. Produk atau barang tersebut pemakaiannya harus simpel, cepat, dan tepat waktu dalam artian tidak merepotkan saat digunakan yang bertujuan agar barang yang dihasilkan akan disukai kalangan masyarakat baik kalangan dewasa, remaja, maupun anak-anak serta dapat menyaingi pabrik industri.
Inisiatif tersebut memunculkan barang atau produk  yang pemakaiannya mudah, tepat, dan jitu serta tidak membutuhkan banyak tenaga saat digunakan. Barang inilah yang dapat menyikapi permasalahan diatas yaitu jas hujan. Namun, jas hujan ini memiliki keunggulan serta manfaat yang lebih dari jas hujan lainnya. Selain menarik, pembuatan jas hujan ini tidak memerlukan biaya yang mahal dan dapat dijangkau masyarakat, karena mengunakan menggunakan limbah pabrik industri yaitu limbah kemasan produk. Jas hujan ini memiliki kesan yang unik, karena terbuat dari limbah kemasan produk. Di samping itu dapat mengurangi kerusakan  lingkungan seperti banjir karena kemasan produk yang tadinya sudah menjadi sampah dapat dimanfaatkan kembali. Selain itu jas hujan ini dapat mengurangi dampak global warming karena limbah plastik tadi yang dapat merusak lingkungan dengan cara merusak kandungan zat hara tanah dapat ditanggulangi dengan pemanfaatan kembali limbah-limbah tersebut. Selanjutnya, jas hujan ini kami beri nama “Jas Hujan Ad Rem” .

B.     Rumusan Masalah
Adapun masalah-masalah yang dapat kami jadikan objek pembahasan dari Karya Ilmiah kami adalah sebagai berikut :
1.      Apa dampak yang ditimbulkan limbah kemasan produk ?
2.      Bagaimana mengolah limbah kemasan produk menjadi barang yang bermanfaat yaitu jas hujan ?

C.    Tujuan Penelitian
Bertitik tolak dari rumusan masalah di atas, maka secara garis besar penelitian ini bertujuan untuk :
1.      Mengetahui dampak adanya limbah kemasan produk.
2.      Mengetahui bagaimana mengolah limbah kemasan produk  menjadi barang yang bermanfaat yaitu jas hujan.



D.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian dari Karya Ilmiah ini, adalah sebagai berikut :
1.      Secara Teoritis
a.       Bagi peneliti dapat dijadikan objek studi atau bahan pembelajaran mengenai dampak adanya limbah kemasan produk, serta bagaimana mengolah limbah kemasan produk (limbah plastik) menjadi barang yang bermanfaat.
b.      Dapat dijadikan sebagai bahan refrensi untuk peneliti lain yang melakukan penelitian yang sama.
2.      Secara Praktis
a.       Bagi Pemerintah
Dapat dijadikan sebagai acuan dalam upaya untuk meminimalisir atau menanggulangi limbah pabrik-pabrik industri.
b.      Bagi Guru
Diharapkan agar melakukan proses pembelajaran dapat memberikan arahan serta didikan kepada siswa-siswi mengenai dampak yang ditimbulkan dari limbah kemasan produk kemudian bagaimana cara mengolahnya menjadi barang yang bermanfaat.
c.       Bagi Pelajar
Dapat  dijadikan sebagai sumber pengetahuan mengenai dampak limbah kemasan produk dan diharapkan dapat menghasilkan ide kreatif bagaimana cara mengolahnya kembali menjadi barang yang bermanfaat.

              BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.    Definisi limbah
Limbah  kemasan produk adalah barang buangan yang berupa plastik  yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga, yang lebih dikenal sebagai sampah), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis (Syahputra, dkk : 2011).
Sumber sampah plastik tergantung pada produksi plastik itu sendiri dan digolongkan berdasarkan bahan dasar penyusunnya. Limbah merupakan material sisa yang tidak diinginkan setelah berakhirnya suatu proses dan merupakan konsep buatan manusia (Rahmi: 2010). Dalam kehidupan manusia, limbah dalam jumlah besar datang dari aktivitas industri misalnya pertambangan, manufaktur,  dan konsumsi. Hampir semua produk industri akan menjadi sampah pada suatu waktu dengan jumlah sampah yang kira-kira mirip dengan jumlah komsumsi.  
Limbah  adalah benda yang dibuang baik bersal dari alam ataupun dari hasil proses teknologi. Limbah dapat berupa tumpukan barang bekas, sisa kotoran hewan, tanaman, atau sayuran. (Teti : 2009)
Menurut Aliyah (2012), limbah adalah kotoran yang dihasilkan karena pembuangan sampah atau zat kimia dari pabrik-pabrik. Limbah atau sampah juga merupakan suatu bahan yang tidak berarti dan tidak berharga, tetapi kita tidak mengetahui bahwa limbah juga bisa menjadi sesuatu yang berguna dan bermanfaat jika diproses secara baik dan benar. Limbah atau sampah bisa berarti sesuatu yang tidak berguna dan dibuang oleh kebanyakan orang, mereka menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak berguna dan jika dibiarkan terlalu lama maka akan menyebabkan penyakit. Padahal dengan pengolahan sampah secara benar maka bisa menjadikan sampah ini menjadi benda ekonomis.

B.     Jenis-jenis limbah
Limbah dapat digolongkan berdasarkan sumbernya, berdasarkan sifatnya, dan berdasarkan karakteristiknya. (Teti : 2009)
Berdasarkan sumbernya limbah digolongkan menjadi:
1.      Limbah organik yang mudah busuk.
Misalnya sisa sayuran, sisa makanan, dedaunan, potongan rumput, dan kotoran hewan.
2.      Limbah organik yang tidak mudah membusuk.
Misalnya kertas dan kayu.
3.      Limbah anorganik.
Misalnya plastik, pecahan kaca, karet, botol, dan besi.
4.      Limbah berbahaya.
Misalnya paku, bekas lampu neon, sisa racun tikus atau serangga, obat kadaluarsa dan batu batrei bekas.
Berdasarkan sifatnya, limbah dibedakan menjadi dua golongan, yaitu:
1.    Limbah yang dapat mengalami perubahan secara alami (degradable waste sama dengan mudah terurai), yaitu limbah yang dapat mengalami dekomposisi oleh bakteri dan jamur, seperti daun-daun, sisa makanan, kotoran dan lain-lain.
2.    Limbah yang tidak akan atau sangat lambat mengalami perubahan secara alami atau non degradable waste sama dengan tidak dapat terurai. Misalnya plastik, kaca, kaleng, dan sampah sejenisnya.
              Berdasarkan karakteristiknya, limbah dapat digolongkan menjadi empat macam, yaitu :
1.      Limbah cair
2.      Limbah padat
3.      Limbah gas dan partikel
4.      Limbah B3 (Bahan berbahaya dan beracun)

C.    Karakteristik dan Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Limbah
Adapun karakteristik limbah, yaitu :
1.      Berukuran mikro
2.      Dinamis
3.      Berdampak luas (penyebarannya)
4.      Berdampak jangka panjang (antar generasi)
Faktor yang mempengaruhi kualitas limbah, yaitu :
1.      Volume limbah
2.      Kandungan bahan pencemar
3.      Frekuensi pembuangan limbah

D.    Daur Ulang Limbah
              Daur ulang adalah pengunaan kembali material atau barang yang sudah tidak digunakan menjadi bentuk lain. (Teti : 2009)
              Daur ulang mempunyai tujuan, yaitu sebagai berikut.
1.      Mengurangi jumlah limbah untuk mengurangi pencemaran atau kerusakan lingkungan.
2.      Mengurangi pengunaan bahan atau sumber daya alam.
3.      Mendapatkan penghasilan karena dapat dijual kemasyarakat.
4.      Melestarikan kehidupan mahluk yang terdapat disuatu lingkungan tertentu.
5.      Menjaga keseimbangan ekosistem mahluk hidup yang terdapat di dalam lingkungan.
6.      Mengurangi sampah anorganik karena sampah anorganik ada yang dapat bertahan hingga 300 tahun kedepan

              Untuk memudahkan proses daur ulang, ada langkah-langkah yang baik, yaitu :
1.      Pemisahan
Limbah yang akan didaur ulang atau dimanfaatkan ulang dipisahkan dengan limbah yang harus dibuang ketempat pembuangan.
2.      Penyimpanan
Limbah yang sudah dipisahkan tadi disimpan dalam kotak yang tertutup. Usahakan setiap kotak yang tertutup hanya berisi satu jenis material limbah tertentu, misalnya kertas bekas, atau botol bekas.
3.      Pengiriman atau penjualan
Barang-barang yang sudah terkumpul dapat dijual kepabrik yang membutuhkan material bekas sebagai bahan baku atau dapat dijual dan diberikan ke pemulung. 

E.     Macam-macam limbah yang dapat dimanfaatkan
              Menurut Teti (2009), jenis-jenis limbah atau material yang dapat dimanfaatkan, yaitu:
1.      Kertas, semua jenis kertas dapat didaur ulang, seperti kertas Koran dan kardus.
2.      Gelas, botol kecap, botol syirup dan gelas/piring pecah dapat digunakan untuk membuat botol, gelas, atau piring yang baru.
3.      Aluminium. Kaleng bekas makanan dan minuman dapat dimanafaatkan kembali sebagai kaleng pengemas.
4.      Baja. Baja sisa konstruksi bangunan akan berguna sebagai bahan pembuatan baja baru.
5.      Plastik. Limbah plastik dapat dilarutkan dan diproses lagi menjadi bahan pembungkus (pengepakan) untuk berbagai keperluan. Misalnya, dijadikan tas botol minyak pelumas, botol minuman dan botol sampo.

F.     Kerangka Pikir


Limbah Kemasan Produk (Limbah Plastik)

Dampak
adanya limbah
kemasan produk

Daur ulang limbah kemasan produk

Faktor yang mempengaruhi kualitas limbah


Mengurangi dampak limbah kemasan produk dan menghasilkan barang yang bermanfaat

                                                                                                          

G.    Hipotesis
            Adapun hipotesa yang kami ajukan dalam karya ilmiah kami adalah limbah hasil produksi pabrik-pabrik industri seperti limbah kemasan plastik dapat dimanfaatkan kembali sehingga menghasilkan produk atau barang yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.
  

BAB III
METODE PENELITIAN
A.    Jenis Penulisan
Jenis penulisan karya tulis ini adalah penelitian pustaka (library research). Penelitian pustaka adalah penelitian yang dilakukan dengan cara menelaah dan mengaji sumber kepustakaan yang disajikan secara deskriftif mengenai “Jas Hujan Ad Rem Limbah Kemasan Produk”.
Tulisan ini selanjutnya ditunjang oleh beberapa literatur yang relevan dengan objek tulisan dan persoalan yang dibahas.

B.   Data dan Sumber Data
Data dalam penelitian ini adalah upaya untuk memanfaatkan kembali limbah kemasan produk. Sumber datanya adalah berupa buku, majalah, dan internet yang sesuai persoalan dan objek tulisan yang dibahas dalam karya ilmiah ini. 

C.    Tehnik Pengumpulan Data
Pengumplan data dalam karya tulis ilmiah ini digunakan tehnik kajian pustaka yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, menganalisis, dan menelaah berbagai literatur yang relevan dengan objek tulisan serta persoalan yang dibahas dalam karya tulis ilmiah ini.

D.    Prosedur Penelitian
Prosedur penelitian dalam karya tulis ini adalah dengan cara diseleksi, yaitu semua informasi yang didapat melalui kajian pustaka, hasilnya diseleksi kesesuaiannya dengan masalah yang dikaji yang bertujuan untuk menjawab permasalahan yang dikemukakan dalam karya tulis ini.
             
BAB IV
PEMBAHASAN
A.      Dampak adanya limbah kemasan produk (limbah plastik)
Akibat dari semakin bertambahnya tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya maka bertambah pula buangan atau limbah yang dihasilkan. Limbah atau buangan yang ditimbulkan dari aktivitas dan konsumsi masyarakat sering disebut  limbah domestik atau sampah. Limbah tersebut menjadi permasalahan lingkungan karena kuantitas maupun tingkat bahayanya mengganggu kehidupan makhluk hidup lainnya. Selain itu aktivitas industry yang kian meningkat tidak terlepas dari isu lingkungan. Industry selain menghasilkan produk juga menghasilkan limbah yang membawa dampak negative terhadap lingkungan berupa terjadinya pencemaran lingkungan.
Tanpa disadari limbah-limbah itu akan berdampak pada lingkungan sekitar, seperti halnya serbuk dan bau dari limbah berdampak pada kesehatan warga sekitar dan banyak tumbuhan yang mati karena bau yang menyengat dan polusi berat dari limbah. Dampak lain yang ditimbulkan dari limbah dapat dilihat dalam berbagai bidang industry adalah sebagai berikut.
1.      Limbah industry pangan
Air buangan atau limbah buangan dari pengolahan pangan dengan Biological Oxygen Demand (BOD) tinggi dan mengandung polutan seperti tanah, larutan alcohol, panas dan insektisida apabila dibuang langsung ke suatu perairan akibatnya mengganggu seluruh keseimbangan ekologi dan bahkan dapat menyebabkan kematian ikan dan biota perairan lainnya.
2.      Limbah industry kimia
Industry kimia seperti alcohol dalam proses pembuatannya membutuhkan air yang sangat besar, mengakibatkan besarnya pula limbah cair yang dikeluarkan yang berdampak pada gangguan kesehatan berupa keracunan kronis sebagai akibat masuknya zat-zat toksis ke dalam tubuh secara terus menerus dan berakumulasi dalam tubuh.
3.      Limbah industry sandang kulit dan aneka
Sector sandang dan kulit seperti pencucian batik mengakibatkan pencemaran karena menimbulkan air buangan yang mengandung sisa-sisa warna, kadar minyak tinggi dan beracun.
4.      Limbah industry logam dan elektronika
Bahan buangan yang dihasilkan dari industry besi baja menimbulkan pencemaran berupa debu, asap dan gas yang mengotori udara sekitar. Selain pencemaran udara oleh bahan buangan, kebisingan yang ditimbulkan mesin dalam industry baja mengganggu kesehatan manusia baik yang bekerja dalam pabrik maupun masyarakat sekitar.
Dampak lain yang ditimbulkan limbah dari lingkungan yang sudah tercemar adalah dapat merusak kesehatan, diantaranya sebagai berikut.
1.      Debu, dapat menyebabkan iritasi dan sesak nafas.
2.      Kebisingan, mengganggu pendengaran, menyempitkan pembuluh darah, ketegangan otot, menurunnya kewaspadaan dan konsentrasi pemikiran.
3.      Karbon monoksida (CO), dapat menyebabkan nafas pendek, saakit kepala, melemahkan penglihatan dan pendengaran. Bila keracunan berat dapat mengakibatkan pingsan yang bisa diikuti dengan kematian.
4.      Karbon dioksida (CO2), mengakibatkan sesak nafas, otot lemah, mengantuk dan telinga berdenging.
5.      Belerang dioksida (SO2), menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, peradangan lensa mata, pembengkakan paru-paru atau celah suara.
6.      Minyak pelumas buangan, menghambat proses oksidasi biologi dari system lingkungan bila bahan pencemar atau limbah dialirkan ke sungai
7.      Asap, dapat mengganggu pernafasan dan menghalangi pemandangan.

B.       Cara pengolahan limbah kemasan produk menjadi barang yang bermanfaat
Untuk memudahkan proses pengolahan limbah kemasan produk menjadi barang yang bermanfaat, langkah-langkah atau cara yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.
1.      Pemisahan
Limbah yang akan didaur ulang atau dimanfaatkan ulang dipisahkan dengan limbah yang harus dibuang ke tempat pembuangan.
2.   Penyimpangan
Limbah yang sudah dipisahkan tadi disimpan dalam kotak yang tertutup. Usahakan setiap kotak yang tertutup hanya berisi satu jenis material limbah tertentu, misalnya kertas bekas atau botol bekas.
3.   Pemanfaatan atau penjualan
Barang-barang yang sudah terkumpul dapat dijual ke pabrik yang membutuhkan material bekas sebagai bahan baku atau dapat dijual atau diberikan ke pemulung.
               Limbah selalu menjadi masalah pelik bagi masyarakat di perkotaan. Apalagi jika limbah itu adalah limbah kemasan produk, karena sifatnya sulit terurai sehingga menjadi momok bagi lingkungan hidup. Tetapi kini, ada cara unik dan kreatif untuk mengolah sampah plastik (trash) menjadi barang yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.
               Pemanfaatan limbah kemasan produk merupakan upaya menekan pembuangan plastik seminimal mungkin dan dalam batas tertentu menghemat sumber daya dan mengurangi ketergantungan bahan baku impor. Pemanfaatan limbah kemasan produk dapat dilakukan dengan pemakaian kembali (reuse) maupun daur ulang (recycle). Di Indonesia, pemanfaatan limbah kemasan produk dalam skala rumah tangga umumnya adalah pemakaian kembali dengan keperluan yang berbeda seperti dibuat suatu produk atau barang. Barang yang kami maksud disini adalah jas hujan dari limbah kemasan produk yang kami beri nama jas hujan ad rem, artinya jas hujan yang tepat, cepat dan jitu          . Jas hujan ini memiliki keunggulan dibanding jas hujan lainnya, karena selain biaya pembuatannya yang murah serta tidak membutuhkan tenaga yang lebih, juga memiliki kesan yang menarik dan unik sehingga banyak yang akan berminat. Dengan adanya jas hujan ad re mini juga dapat menanggulangu dan meminimalisir dampak yang ditimbulkan dari limbah-limbah kemasan produk.


BAB V
PENUTUP
A.    Simpulan
Adapun simpulan dari karya tulis ilmiah kami, adalah sebagai berikut:
1.                  Dampak adanya limbah kemasan produk, adalah debu  menyebabkan iritasi dan sesak nafas. Kebisingan, mengganggu pendengaran, menyempitkan pembuluh darah, ketegangan otot, menurunnya kewaspadaan dan konsentrasi pemikiran. Karbon monoksida (CO), dapat menyebabkan nafas pendek, saakit kepala, melemahkan penglihatan dan pendengaran. Bila keracunan berat dapat mengakibatkan pingsan yang bisa diikuti dengan kematian.  Karbon dioksida (CO2), mengakibatkan sesak nafas, otot lemah, mengantuk dan telinga berdenging.  Minyak pelumas buangan, menghambat proses oksidasi biologi dari system lingkungan bila bahan pencemar atau limbah dialirkan ke sungai. Asap, dapat mengganggu pernafasan dan menghalangi pemandangan

2.                  Bagaimana mengolah limbah kemasan produk  menjadi barang yang bermanfaat yaitu jas hujan adalah dengan langkah-langkah, yaitu (1)pemisahan limbah antara sampah yang dapat dimanfaatkan dan yang tidak dapat dimanfaatkan, (2)penyimpangan limbah dengan cara dimasukkan kedalam kotak dan ditutup, (3)pemanfaatan dan penjualan dengan cara dijual kepemulung atau kita manfaatkan dengan berkreasi sendiri untuk membuat jas hujan yang unik sehingga memiliki kesan yang menarik

B.     Saran
Adapun saran yang kami ajukan dalam karya tulis ilmiah ini, adalah sebagai berikut:
1.      Bagi pemerintah, dalam hal ini Dinas Perindustrian agar memerhatikan limbah hasil produksi pabrik-pabrik industri yang mencemarkan lingkungan sekitar agar diberi ketegasan yang jelas.
2.      Bagi guru, agar memberikan bimbingan, arahan, dan didikan kepada siswa-siswi tentang dampak yang ditumbulkan dari limbah hasil produksi pabrik industri.
3.      Bagi masyarakat, dapat  dijadikan sebagai sumber pengetahuan mengenai dampak yang ditimbulkan dari limbah hasil produksi pabrik industry, khususnya dampak terhadap kesehatan sehingga dapat dijadikan sebagai tolak ukur untuk meminimalisir dan menanggulangi limbah dilingkungan sekitar.
4.      Bagi pelajar, agar mampu melahirkan ide-ide kreatif mengenai pemanfaatan kembali limbah kemasan produk sehingga tidak terbuang sia-sia dan berdampak pada lingkungan sekitar dan mahluk hidup lainnya

DAFTAR PUSTAKA

Aliyah. 2012. Definisi limbah. (Online). (http://www.facebook.com). Diakses tanggal 15 November 2012.
Rahmi. 2010. Definisi limbah. (Online). (http://www.facebook.com).     Diakses tanggal 15 November 2012.
Syahputra, dkk. 2011. Definisi limbah. (Online), (http://www.wordpress.com). Diakses tanggal 15 November 2012. 
Teti. 2009. Pengertian dan jenis-jenis limbah. (Online). (http://www.facebook.com). Diakses tanggal 15 November  2012
Share:
Powered by Blogger.

About Me

Followers

JAM